MENGUATKAN SYUKUR DAN KUALITAS IBADAH DI BULAN RAMADHAN BY IHSANUDDIN



Refleksi Inti Khotbah Jumat di Masjid Jami' Roudlotul Jannah Jenggawah

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh kemuliaan yang selalu dinanti umat Islam. Namun tidak semua orang diberi kesempatan untuk kembali bertemu dengannya. Karena itu, khotbah Jumat kali ini mengajak kita merenungkan tiga hal penting: bersyukur atas kesempatan, memperbanyak ibadah, dan menjaga kualitas puasa agar tidak sia-sia.

1. Bersyukur atas Nikmat Kesempatan Bertemu Ramadhan

Nikmat terbesar bukan sekadar harta dan kesehatan, tetapi nikmat umur dan kesempatan. Tahun ini Allah masih mempertemukan kita dengan Ramadhan. Padahal belum tentu tahun depan kita masih diberi kesempatan yang sama.

Allah berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’”
(QS. Ibrahim: 7)

Tentang kewajiban dan kemuliaan puasa Ramadhan, Allah juga berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah takwa. Maka bersyukur atas Ramadhan berarti menjalankannya dengan kesungguhan untuk meningkatkan kualitas ketakwaan kita.

2. Memperbanyak Ibadah karena Pahalanya Dilipatgandakan

Ramadhan adalah bulan keberkahan, di mana setiap amal dilipatgandakan pahalanya.

Rasulullah ï·º bersabda:

“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan, satu kebaikan dibalas sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman: Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis lain, Rasulullah ï·º bersabda:

“Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan betapa besar peluang kebaikan di bulan Ramadhan. Karena itu, kita dianjurkan memperbanyak:

  • Shalat malam (tarawih dan tahajud)
  • Membaca dan mentadabburi Al-Qur’an
  • Sedekah dan amal sosial
  • Zikir dan doa

Ramadhan adalah madrasah ruhaniyah yang mendidik hati dan jiwa.

3. Menjaga Puasa agar Tidak Sia-Sia

Namun, memperbanyak ibadah saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan menjaga diri dari maksiat. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.

Rasulullah ï·º bersabda:

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dosa, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya yang hanya meninggalkan makan dan minum.”
(HR. Bukhari)

Dalam hadis lain disebutkan:

“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.”
(HR. Ibnu Majah)

Hadis ini menjadi peringatan keras agar kita menjaga:

  • Lisan dari ghibah, fitnah, dan dusta
  • Hati dari iri dan dengki
  • Pandangan dari hal yang diharamkan
  • Sikap dari amarah dan permusuhan

Puasa sejati adalah puasa yang melahirkan akhlak yang lebih baik.

 Penutup

Ramadhan adalah tamu agung yang singgah sementara. Ia datang membawa ampunan, rahmat, dan peluang pahala yang berlipat. Namun ia juga menjadi saksi apakah kita benar-benar bersyukur atau hanya menjalaninya sebagai rutinitas tahunan.

Mari kita syukuri nikmat dipertemukan dengan Ramadhan, kita maksimalkan ibadahnya dengan dalil yang jelas dari Al-Qur’an dan Sunnah, serta kita jaga diri dari segala hal yang mengurangi nilainya.

Semoga Allah menerima puasa dan amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan di tahun-tahun mendatang dalam keadaan iman yang lebih kuat.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.

 




Post a Comment

Previous Post Next Post