MEMAHAMI PENENTUAN 1 RAMADHAN (MENGURAI PERBEDAAN DENGAN ILMU DAN KEBIJAKSANAAN) by IHSANUDDIN


TINJAUAN ILMIAH DAN FIKIH

Artikel ini saya tulis sebagai bentuk keingintahuan pribadi dengan latar belakang sebagai guru IPA, sekaligus untuk menjawab fenomena yang hampir selalu terulang setiap tahun, perbedaan penetapan 1 Ramadhan.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan pihak mana pun—baik pemerintah, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, maupun ormas Islam lainnya. Justru sebaliknya, tulisan ini bertujuan menghadirkan pemahaman agar kita tidak mudah terprovokasi dan mampu melihat persoalan ini secara ilmiah, objektif, dan bijaksana.

MENGAPA PERBEDAAN ITU TERJADI?

Perbedaan awal Ramadhan bukanlah persoalan baru. Sejak masa sahabat, metode penentuan awal bulan Hijriah memang memiliki pendekatan yang beragam. Semua sepakat pada dalil yang sama, yaitu hadis Nabi:

“Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal…”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Perbedaan muncul pada cara memahami kata “melihat” serta bagaimana memadukan dalil tersebut dengan perkembangan ilmu astronomi modern.

 

METODE YANG DIGUNAKAN DI INDONESIA

1. Nahdlatul Ulama: Rukyat (Observasi Hilal)

Nahdlatul Ulama menitikberatkan pada rukyat, yaitu pengamatan langsung hilal setelah matahari terbenam.

  • Hisab tetap digunakan, tetapi sebagai alat bantu.
  • Jika hilal terlihat dan memenuhi syarat, maka masuk bulan baru.
  • Jika tidak terlihat, bulan sebelumnya disempurnakan menjadi 30 hari (istikmal).

Pendekatan ini berpegang pada pemahaman tekstual hadis tentang “melihat hilal”.

 

2. Muhammadiyah: Hisab Hakiki Wujudul Hilal

Penetapan awal bulan oleh Muhammadiyah dilakukan melalui Majelis Tarjih dan Tajdid dengan metode hisab hakiki wujudul hilal.

Prinsipnya:

  1. Ijtimak (konjungsi bulan–matahari) terjadi sebelum matahari terbenam.
  2. Saat matahari terbenam, posisi bulan masih di atas ufuk (positif).

Jika dua syarat ini terpenuhi, maka bulan baru dimulai—meskipun hilal belum tentu terlihat secara kasat mata.

Beberapa tahun terakhir, Muhammadiyah juga mengembangkan konsep KHGT (Kalender Hijriah Global Tunggal), yaitu apabila di satu wilayah dunia telah memenuhi kriteria tertentu, maka tanggal baru berlaku secara global.

 

3. Pemerintah: Hisab + Rukyat (Kriteria MABIMS)

Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menggunakan kombinasi hisab dan rukyat dengan standar MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura).

Kriterianya:

  • Tinggi hilal minimal 3°
  • Elongasi minimal 6,4°

Data astronomi biasanya dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Jika belum memenuhi kriteria tersebut, maka bulan digenapkan 30 hari.

 

STUDI KASUS

A. Penetapan 1 Ramadhan 1446 H (2025)

Data Astronomis

  • Ijtimak: 28 Februari 2025 ± 07.45 WIB
  • Saat maghrib:
    • Tinggi hilal: +3° hingga +4°
    • Elongasi: 6°–7°
    • Umur bulan: ±10–11 jam

Data ini menunjukkan hilal sudah berada di atas ufuk dan memenuhi kriteria visibilitas.

Hasil

  • Muhammadiyah: 1 Maret 2025
  • Pemerintah: 1 Maret 2025

Tahun 1446 H relatif seragam karena memenuhi semua kriteria, baik wujudul hilal maupun MABIMS.

 

B. Penetapan 1 Ramadhan 1447 H (2026)

Data Astronomis Indonesia

  • Ijtimak: 17 Februari 2026 ± 19.00 WIB
  • Saat maghrib:
    • Tinggi hilal: -1° hingga -2° (di bawah ufuk)
    • Elongasi: < 6°
    • Umur bulan sangat muda

Artinya, secara regional Indonesia:

  • Hilal belum wujud
  • Tidak mungkin terlihat
  • Tidak memenuhi kriteria MABIMS

Data Global

Di sebagian wilayah Amerika Selatan:

  • Tinggi hilal: +3° hingga +4°
  • Elongasi: ±7°–8°

Karena itu:

  • Muhammadiyah (KHGT): 1 Ramadhan 1447 H = 18 Februari 2026
  • Pemerintah Indonesia: 1 Ramadhan 1447 H = 19 Februari 2026

 

ANALISIS PERBEDAAN 1447 H

Perbedaan ini bukan karena:

  • Dalil berbeda
  • Akidah berbeda
  • Kepentingan tertentu

Melainkan karena perbedaan metodologi:

Aspek

Muhammadiyah

Pemerintah

Cakupan

Global

Regional Indonesia

Metode

Hisab murni

Hisab + rukyat

Standar

Hilal wujud di suatu wilayah dunia

Minimal 3° & 6,4° di Indonesia

Jika memahami data astronominya, jelas bahwa perbedaan ini bersifat metodologis dan ilmiah.

 

PENEGASAN ILMIAH

Ilmu falak modern sangat presisi. Perhitungan posisi bulan menggunakan algoritma astronomi berbasis mekanika langit (ephemeris modern seperti NASA dan algoritma Jean Meeus).

Karena itu:

  • NU konsisten pada rukyat sebagai implementasi tekstual hadis
  • Muhammadiyah konsisten pada kepastian hisab
  • Pemerintah mengambil jalan tengah melalui kriteria MABIMS

Semua memiliki dasar ilmiah dan fikih yang dapat dipertanggungjawabkan.

 

MENJAWAB NETIZEN YANG MUDAH TERPROVOKASI

Sering muncul komentar di media sosial:

  • “Yang ini salah!”
  • “Yang itu tidak sesuai sunnah!”
  • “Kenapa selalu beda?”

Padahal jika memahami dasar teorinya:

Semua menggunakan dalil yang sama
Semua menggunakan ilmu falak yang sahih
Perbedaan terletak pada metode dan kriteria

Ini adalah perbedaan ijtihad, bukan persoalan benar atau sesat.

 

ISTILAH PENTING DALAM HISAB DAN RUKYAT

Beberapa istilah kunci:

  • Ijtimak: Konjungsi bulan–matahari.
  • Hilal: Bulan sabit pertama setelah ijtimak.
  • Tinggi Hilal: Ketinggian bulan di atas ufuk.
  • Elongasi: Jarak sudut bulan–matahari.
  • Umur Bulan: Waktu sejak ijtimak.
  • Rukyat: Pengamatan langsung hilal.
  • Istikmal: Menyempurnakan bulan menjadi 30 hari.
  • Matla’: Wilayah acuan terlihatnya hilal.
  • KHGT: Kalender Hijriah Global Tunggal.

 

PENUTUP

Perbedaan awal Ramadhan adalah bagian dari dinamika keilmuan Islam. Ini menunjukkan bahwa Islam kaya dengan tradisi ilmiah, diskusi, dan ijtihad.

Yang lebih penting daripada memperdebatkan tanggal adalah:

  • Meningkatkan kualitas ibadah
  • Menjaga ukhuwah Islamiyah
  • Mendidik generasi dengan ilmu, bukan emosi

Semoga tulisan ini menjadi penyejuk dan pencerah bagi kita semua.

 


Post a Comment

Previous Post Next Post