Dalam konteks inilah, MTsN 10 Jember memandang
penting penguatan Program Adiwiyata yang tidak berhenti pada pemenuhan
indikator administratif, tetapi ditransformasikan menjadi gerakan pendidikan
karakter berbasis eko-teologi Islam. Melalui pembentukan Kader Adiwiyata
berbasis eko-teologi, madrasah berupaya menanamkan kesadaran bahwa menjaga
lingkungan bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan bagian integral dari
ibadah dan pengamalan iman kepada Allah SWT.
Program ini menjadi ikhtiar bersama untuk
melahirkan generasi green generation yang beriman, berilmu, dan beramal
nyata dalam menjaga bumi sebagai amanah Ilahi.
A.
Konsep
Adiwiyata
Program Adiwiyata merupakan program nasional
yang bertujuan mewujudkan satuan pendidikan yang peduli dan berbudaya
lingkungan. Dalam perspektif madrasah, Adiwiyata dimaknai sebagai sarana
pendidikan karakter yang menumbuhkan keselarasan antara pengetahuan, sikap, dan
perilaku peserta didik.
Melalui Program Adiwiyata, diharapkan
terbentuk warga madrasah yang:
- Memiliki
kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup,
- Membiasakan
perilaku ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari,
- Bertanggung
jawab terhadap keberlanjutan alam sebagai ruang hidup bersama.
Nilai-nilai tersebut selaras dengan tujuan
pendidikan madrasah yang menekankan keseimbangan antara ilmu, iman,
dan amal, sehingga peserta didik tidak hanya cerdas secara kognitif,
tetapi juga matang secara moral dan spiritual.
B.
Eko-Teologi
Islam
Eko-teologi Islam merupakan pendekatan
teologis yang memandang hubungan manusia dengan alam sebagai bagian dari relasi
manusia dengan Allah SWT. Dalam Islam, alam semesta bukanlah objek eksploitasi
semata, melainkan ciptaan Allah yang memiliki nilai sakral dan fungsional bagi
kehidupan.
Eko-teologi Islam menanamkan kesadaran bahwa:
- Alam semesta
adalah amanah dari Allah SWT yang harus dijaga dan dilestarikan,
- Manusia
diciptakan sebagai khalifah fil ardh, yaitu pemimpin dan penjaga
bumi,
- Setiap
tindakan perusakan lingkungan merupakan bentuk pengkhianatan terhadap
amanah dan pelanggaran nilai ibadah serta akhlak.
Allah SWT berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut
disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada
mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan
yang benar).”
(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini menegaskan bahwa krisis lingkungan
sejatinya adalah krisis moral dan spiritual. Oleh karena itu, solusi yang
ditawarkan madrasah tidak cukup bersifat teknis, tetapi harus menyentuh dimensi
kesadaran iman dan tanggung jawab sebagai hamba Allah.
2. Konsep Kader Adiwiyata Berbasis
Eko-Teologi
A.
Pembentukan
Kader (Green Khalifah)
Sebagai motor penggerak budaya peduli
lingkungan, MTsN 10 Jember membentuk Kader Adiwiyata yang berperan sebagai agen
perubahan (agent of change) di lingkungan madrasah. Kader ini dapat
diberi nama yang bernilai ideologis dan inspiratif, seperti:
- Kader Green
Khalifah,
- Duta
Eko-Teologi Madrasah,
- atau Sahabat
Bumi Madrasah.
Pembentukan kader dilaksanakan melalui tahapan
yang edukatif dan inklusif, yaitu:
- Seleksi
ringan dan partisipatif, dengan melibatkan perwakilan setiap
kelas serta siswa yang memiliki minat, kepedulian, dan potensi
kepemimpinan dalam bidang lingkungan.
- Penerbitan
Surat Keputusan (SK) Kepala Madrasah, sebagai bentuk pengakuan resmi,
penguatan tanggung jawab, dan jaminan keberlanjutan program.
- Pembinaan
berjenjang,
meliputi kader tingkat dasar (pengenalan), kader penggerak (pelaksana dan
penggerak kegiatan), serta kader teladan (role model bagi warga madrasah).
B.
Kurikulum
Kader (Integratif)
Pembinaan kader Adiwiyata dirancang secara
integratif agar menyentuh aspek spiritual, pengetahuan, keterampilan, dan
sosial. Kurikulum kader meliputi:
- Aspek
Teologis,
melalui tadabbur ayat-ayat kauniyah, kajian hadits tentang kebersihan dan
lingkungan, serta pengenalan fiqh lingkungan (fiqh al-bi’ah).
- Aspek
Ekologis,
berupa praktik pengelolaan sampah, pembuatan kompos, biopori, pemeliharaan
tanaman, dan konservasi air.
- Aspek Sosial, dengan
kegiatan edukasi teman sebaya, kampanye hijau, serta keterlibatan aktif
dalam kegiatan kebersihan dan keindahan madrasah.
- Aspek
Digital,
melalui pembuatan konten dakwah lingkungan dalam bentuk poster digital,
video pendek, dan publikasi di media sosial madrasah.
3. Pola Kegiatan Inti Kader
1. Spiritualitas Lingkungan
Setiap aktivitas
lingkungan diawali dengan penguatan niat dan nilai spiritual, antara lain:
- Pembacaan
doa sebelum pelaksanaan piket kebersihan,
- Kultum Setelah sholat duhur berjamaah 1 minggu sekali dengan tema kepedulian lingkungan dalam perspektif Islam,
- Tadabbur
alam di kebun atau taman madrasah sebagai media refleksi kebesaran Allah.
2. Aksi Nyata Lingkungan
Sebagai wujud
implementasi nilai, kader melaksanakan berbagai aksi nyata, seperti:
- Gerakan
“Sampahku Tanggung Jawabku”,
- Pengelolaan
bank sampah berbasis kelas,
- Program satu
siswa satu tanaman,
- Kegiatan
Jumat Bersih yang dimaknai sebagai amal ibadah bersama.
3. Keteladanan Harian
Kader Adiwiyata
dituntut menjadi teladan dalam perilaku sehari-hari, antara lain:
- Tidak
membuang sampah sembarangan,
- Menghemat
air saat berwudhu,
- Menghemat
listrik sebagai bagian dari iman dan rasa syukur.
a. Tata Tertib Bernilai Eko-Teologi
Nilai kepedulian
lingkungan diintegrasikan ke dalam tata tertib madrasah, antara lain:
- Merusak
tanaman dipandang sebagai pelanggaran akhlak,
- Membuang
sampah sembarangan dipahami sebagai pelanggaran adab.
b. Pembiasaan Harian
Budaya ramah
lingkungan dibangun melalui pembiasaan, seperti:
- Piket kelas
berbasis niat ibadah,
- Wudhu ramah
lingkungan,
- Penerapan
kantin madrasah bebas plastik sekali pakai.
Kepala Madrasah
Kepala madrasah
berperan sebagai pengarah dan teladan utama dengan:
- Menjadi role
model eko-teologi,
- Menguatkan
kebijakan madrasah hijau,
- Mengintegrasikan
program Adiwiyata ke dalam RKAM dan program kerja madrasah.
Guru
Guru berperan
sebagai pendidik dan pembimbing dengan:
- Mengaitkan
materi pembelajaran dengan isu lingkungan,
- Menilai
sikap peduli lingkungan sebagai bagian dari implementasi P5RA.
Untuk menjaga
keberlanjutan dan kualitas program, dilakukan evaluasi dan apresiasi melalui:
- Jurnal
kegiatan kader lingkungan,
- Penilaian
kelas terbersih bernilai ibadah,
- Pemberian
penghargaan “Green Khalifah Award”,
- Refleksi
bulanan dengan pertanyaan: apa kontribusiku dalam menjaga bumi Allah?
Melalui program
ini diharapkan terwujud:
- Peserta
didik yang peduli lingkungan karena dorongan iman,
- Budaya
bersih yang tumbuh dari kesadaran, bukan karena takut sanksi,
- Program
Adiwiyata sebagai gerakan ruhani, bukan sekadar proyek,
- MTsN 10
Jember sebagai pusat pendidikan lingkungan Islami yang inspiratif.
“Merawat
bumi adalah ibadah, menjaga lingkungan adalah amanah.”
- Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Panduan Program Adiwiyata.
- Kementerian
Agama RI. Penguatan Pendidikan Karakter dan P5RA di Madrasah.
- Al-Qur’an
Al-Karim, QS. Al-Baqarah: 30 dan QS. Ar-Rum: 41.
- Yusuf
Al-Qaradawi. Islam dan Lingkungan Hidup.
- Abdurrahman
Wahid dkk. Fiqh Lingkungan (Fiqh al-Bi’ah).
